Oleh:
Ambar Surniawati
(12005208)
MAKALAH
“IMAN KEPADA HARI AKHIR”
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Beriman kepada hari akhir atau hari
kiamat termasuk rukun iman yang kelima. Orang Islam harus meyakini terhadap
adanya hari akhir/kiamat. Meyakini terhadap hari akhir bagi orang beriman
hukumnya wajib. Orang yang tidak mempercayai adanya hari akhir berarti imannya
tidak sempurna. Hal tersebut sama juga tidak mempercayai terhadap kebenaran
Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an adalah kalamullah yang kebenarannya bersifat
mutlak (pasti benar). Dengan demikian dapat juga dikatakan sebagai orang yang
mengingkari Allah SWT., sedangkan ingkar termasuk dosa besar. Tentang kapan datangnya hari
kiamat itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena semua adalah rahasia
Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW. ketika ditanya oleh sahabat, beliau pun tidak
mengetahuinya, namun sebelum datang saatnya hari kiamat itu ada tanda-tanda
besar.
Meyakini adanya Hari Akhir juga merupakan
salah satu basis dalam ajaran Islam. Memungkirinya atau meragu-ragukannya,
berarti mengingkari seluruh ajaran Islam. Hakikat Yaum-ul-Akhir termasuk hal
yang ghaib,karenanya hanya agamalah yang dapat menerangkannya. Manusia tidak
dapat mereka-reka kejadian di hari itu, tanpa keterangan langsung dari Allah
SWT dalam Al-Quran dan melalui keterangan-keterangan dari RasuluLlah SAW. Oleh
karena itu, seorang mu'min sepatutnya menerima sepenuhnya petunjuk-petunjuk
Allah tentang Kiamat tanpa pertimbangan lagi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah yang melatar belakangi masalah diatas antaranya :
1.
Apa pengertian iman kepada hari akhir?
2.
Apa hakikat hari akhir bagi manusia?
3.
Apa pengertian surga,neraka dan isinya?
4.
Apa pengertian syafaat yang berhak menerima dan diberi?
5.
Bagaiman cara dan bentuk menyikapi hari akhir (pengejawahan)?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
dari penulisan makalah kami ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui pengertian iman kepada hari akhir.
2.
Mengetahui hakikat hari akhir bagi manusia.
3.
Mengetahui pengertian surga,neraka dan isinya.
4.
Mengetahui pengertian syafaat yang berhak menerima dan diberi.
5.
Mengetahui cara dan bentuk penyikapan hari akhir (pengejawahan).
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Iman Kepada Hari Akhir
Secara Etimologi menurut bahasa,
hari akhir adalah hari berakhirnya segala sesuatu di muka bumi ini. Menurut
kamus besar bahasa Indonesia, hari akhir adalah hari akhir zaman atau hari di
mana dunia seisinya rusak binasa dan lenyap. Hari akhir juga dapat di artikan
sebagai hari kebangkitan sesudah mati, yaitu orang yang telah meninggal di
hidupkan kembali untuk di adili perbuatannya.
Secara Terminologi menurut
istilah hari akhir adalah peristiwa dimana alam semesta beserta isinya hancur
luluh yang membunuh semua makhluk di dalamnya tanpa terkecuali. Hari akhir di
tandai dengan bunyi teropet sangkakala oleh malaikat Isrofil atas perintah
Allah SWT. Hari akhir sering di sebut juga dengan istilah hari kiamat.
Pengertian Hari kiamat itu sendiri
adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia dan yang
harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan untuk menuju ke
kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Iman kepada hari kiamat
adalah rukum iman yangke-lima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet
sangkakala oleh malaikat isrofil untuk menghancurkan bumi beserta seluruh
isinya.Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan
rahasia AllahSWT yang tidak diketahui siapa pun. Namun dengan demikian kita
masih bisa mengetahui kapandatangnya hari kiamat dengan melihat tanda-tanda
yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.Orang yang beriman kepada Allah SWT dan
banyak berbuat kebaikan akan menerima imbalansurga yang penuh kenikmatan,
sedangkan bagi orang-orang kafir dan penjahat akan masuk neraka yang sangat
pedih untuk disiksa.
Ø Dalil dan Hadist Yang menjelaskan Adaya Hari Kiamat
Beriman kepada Hari Akhir artinya
meyakini dengan teguh apa yang diberitakan olehAllah dalam kitabNya dan apa
yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya terkaitdengan peristiwa
yang terjadi sesudah mati, mulai fitnah kubur, azab dan nikmat kubur
danseterusnya sampai surga dan neraka.
Beriman kepada Hari Akhir adalah
rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Didalam al-Qur`an dan di dalam
hadits beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada
Allah karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman
kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal,
orang beramal karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada ketakutan
terhadap azab di Hariakhir, jika dia tidak beriman kepadanya maka dia seperti
orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:
Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia
saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain
masa,dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka
tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).
Ø Ada beberapa dalil yang menjelaskan bahwa hari akhir itu
benar benar ada, diantaranya:
a. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan
sungguh, (hari) pembalasan pasti benar. (QS. Adz-dzariyyat: 5-6).
b. Sesungguhnya hari kiamat benar-benar akan datang tidak
ada keraguan di dalamnya. (QS.Ghafir: 59).
c. Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan
malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari
Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu tidak berguna
lagi iman orang yang belum beriman sebelum itu, atu berusaha berbuat kebajikan
dengan imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Kamipun Menunggu. (QS.
Al-An‟am:158).
d. Hingga apabila (tembok) Ya‟juj dan Ma‟juj dibukakan
dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan (apabila)
janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat,..(QS. Al-Anbiya:96-97).
e. Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut
yang tampak jelas. (QS. Ad- Dukhan: 10).
f.
Wahai Manusia!
Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu
(kejadian) yang sangat besar. (QS. Al-Hajj:1).
Ø Dan beberapa hadist yang menjelaskan adanya hari
kiamat, yaitu :
a. Seorang Arab Badui bertanya, “Kapankah tibanya
kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab, “Apabila amanah diabaikan maka tunggulah
kiamat.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya
Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada
orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari).
b. Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah
seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari
beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya
beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan
(imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud).
c. Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku
kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud).
d. Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati
kuburan berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini.”
(Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu
dihadapinya). (HR Bukhari).
e. Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi
orang yang menyebut : “Allah, Allah.” (HR. Muslim).
f.
Belum akan
datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya.
(HR. Bukhari).
Ø Tanda – Tanda Kiamat
Kiamat dibagi menjadi dua, yaitu kiamat syugra (kecil) dan kiamat kubra (besar).
1) Tanda-tanda shugra (kecil), yang sebagian di antaranya
sudah tampak dalam kehidupan sekarang ini:
a) Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan
ditinggalkan oleh kaum Muslim.
b) Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin
sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat.
c) Perzinahan dilakukan terang-terangan dan sudah menjadi
suatu kebiasaan di masyarakat luas.
d) Begitu pula mabuk-mabukan yang banyak dilakukan seolah
bukan perbuatan yang diharamkan.
e) Jumlah wanita semakin lebih banyak dibandingkan dengan
pria, dan mereka sudah tidak malu lagi berpakaian setengah telanjang.
f) Banyak wanita yang berdandan/berpenampilan seperti
pria, begitu juga sebaliknya.
g) Umat manusia berlomba menumpuk kekayaan dengan jalan
yang tidak halal serta maraknya praktek riba.
h) Para orangtua menjadi budak dan diperlakukan
sewenang-wenang oleh anak- anaknya.
i) Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam. sering
terjadi bencana alam, pembunuhan, dan peperangan.
j) Banyaknya perceraian.
k) Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara
jamaahnya sedikit, serta saling membanggakan keindahan masjid.
2) Tanda-tanda kubra (besar) seperti halnya :
a) Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa
sebulan, sebulan terasa seminggu.
b) Matahari terbit di sebelah barat.
c) Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yang menutupi
kebenaran.
d) Adanya Ya‟juj dan Ma‟juj, yaitu segolongan umat
manusia yang mempunyai kekuatan besar dan berpikiran sesat.
e) Turunnya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari‟at
Islam dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
f) Turunnya Nabi Isa as. dari langit yang akan
memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi.
g) Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat
manusia mengesakan Allah swt dan menyambah-Nya.
h) Hilangnya Al Quran dari mashaf san hati umat manusia
hingga hilang pedoman.
Tanda-tanda kecil datangnya hari
kiamat secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda besar, serta
sebagiannya sudah terjadi. Jika tanda-tanda besar muncul telah muncul satu,
maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya, yaitu yang pertama kali muncul
adalah terbitnya matahari dari barat. Demikianlah kita sebagai umat manusia
hendaknya mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan taat dan takwa kepada Allah
swt, karena bagaimanapun juga tanda-tanda kecil datangnya kiamat telah banyak
terjadi dan itu semua sebagai peringatan agar manusia sadar dan bertaubat.
B.
Hakikat Hari Akhir Bagi Manusia
Iman
kepada hari akhir adalah mempercayai dan meyakini akan adanya kehidupan yang
kekal dan abadi setelah kehidupan dunia ini. Bagi orang islam wajib mengimani
dan meyakini bahwa suatu ketika nanti dunia yang kita huni beserta isinya
ini akan hancur lebur, yang dikenal dengan hari kiamat. Setelah itu manusia
akan di bangkitkan lagi dari alam kuburnya untuk menerima kebenaran yang
sesungguhnya, yakni manusia akan mempertanggungjawabkan semua yang diperbuat
selama hidup dunia. Bukti seseorang beriman kepada hari akhir adalah ia mau
mempersiapkan diri untuk menyambut hari itu, yakni dengan banyak beramal saleh,
contohnya salat lima waktu, infaq, belajar dengan giat, dan lain-lain.
Datangnya hari kiamat tidak ada orang yang tahukapan waktunya, datangnya hari kiamat
merupakan rahasia Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Thaha ayat 15
yang artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan
(waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan”.(QS.
Thaha : 15)
Firman yang lainnya : “Dan sesungguhnya hari kiamat
itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah
membangkitkan semua yang ada dalam kubur”.(QS. Al-Hajj : 7)
Islam memandang dunia dan akhirat
sebagai kesatuan integral yang tak terpisahkan. Islam tidak menjauhi, membenci
atau mengaharamkan dunia, melainkan melihatnya sebagai jembatan menuju akhirat.
RasuluLlah SAW memberi perumpamaan yang tepat bagi dunia ini: "Ad-dunya
mazru'atul akhirat" (Dunia adalah sawah-ladangnya akhirat). Dunia tempat
berbuat dan akhirat tempat memetik buah hasil perbuatan. Kendati dunia teramat
penting, ia tidak boleh dijadikan tujuan. Seorang mu'min senantiasa menjadikan
ridha ALlah, serta pahala balasan akhirat sebagai titik tuju.
Bagaimanakah sikap manusia (termasuk
umat Islam) terhadap hari akhirat? Tak dapat dipungkiri, dalam era modern
seperti dewasa ini daya pikat dunia semakin kuat dan memabukkan sehingga mereka
yang tidak mengenal kebenaran dengan mudah terbuai oleh rayuannya. Semakin
bartambahnya usia, yang pada hakikatnya semakin mendekati titik akhir, justru
akhirat semakin diabaikan. Tidak sedikit yang menanggapi uraian-uraian mengenai
akhirat dengan acuh tak acuh. Bahkan banyak diantaranya yang menganggap sepi
tak berarti, dan bahkan mengingkari.
Ø Dalam
keimanan pada hari akhir, paling tidak, manusia dapat digolongkan dalam tiga
macam:
1.
Sama sekali tidak percaya.
Jumlah manusia golongan ini cukup banyak
dan pemikiran merekadominan sekali pada masa ini. Orang-orang ini percaya bahwa
materi itu di atas segala-galanya. Bagi mereka, kehidupan ini hanyalah semata-
mata di dunia saja. Tidak pernah terlintas untuk meyakini adanya hari akhir,
serta tak perlu bertanggung jawab atas apa-apa yang diperbuatnya.
2.
Percaya, tapi tidak mempersiapkan diri.
Mungkin, jumlah terbanyak umat manusia
termasuk dalam golongan ini. Sebagian besar umat Islam masa kini juga termasuk
mereka. Sebenarnya, orang-orang yang mengimani hari akhirat berikut pembalasan
di dalamnya, akan selalu berhati-hati dalam perbuatannya karena mereka sadar
akan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Namun sayang, keimanan tersebut tak
berpengaruh dalam perbuatan atau sikapnya. Kenyataan hidup sehari-harinya
sangat jauh dari konsep iman.
3.
Percaya, dan berusaha mempersiapkan diri.
Manusia dalam kelompok ini meyakini adanya
akhirat, dan selalu berupaya keras untuk mencapainya. Kelompok inilah yang
disebut "mu'min". Iman kepada ALlah dan Hari Akhir membentuk sikap
dan perilakunya. Seluruh perbuatannya berdasarkan aturan dan hidayah ALlah.
Terkontrol sepenuhnya oleh tanggung-jawabnya terhadap Hari Pengadilan dan
Pembalasan. Setiap tindakannya selalu disertai dengan satu tanya "Nanti
bagaimana?", bukannya "Bagaimana nanti!".
Barangsiapa
yang beriman kepada ALlah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya,
dan barangsiapa yang yang beriman kepada ALlah dan Hari Akhir, hendaklah
berbicara yang baik, dan kalau tidak dapat, hendaklah ia diam saja. [Muttafaqun
alaihi].
C.
Pengertian
Surga, Neraka dan Isinya
a.
Surga
Surga aslinya dari bahasa Arab, yaitu, Jannah artinya kebun
atau taman. Adapun yang dimaksud “surga” disini ialah tempat yang penuh dengan
keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi yang disediakan bagi manusia
sebagai pembalasan yang layak terhadap amal perbuatannya di dunia, semua yang
ada dalam surga adanya serba nikmat. Allah berfirman :
“Sesungguhnya
penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam
tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Q.S Yasin: 55-56).
Sebagai balasan bagi orang-orang yang telah berbuat
kebajikan, maka penghuni surga tidak akan mendengar perkataan yang sia-sia.
Allah berfirman :
“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan
yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.” (Q.S Al-Waqi’ah:
25)
Ø Adapun macam macam surga sebagai berikut :
a) Surga Firdaus.
Dijadikan dari
emas yang merah.Dalam Al-Mukminun : 1-11, dijelaskan bahwa surga ini untuk
orang-orang yang khusyuk sholatnya, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia,
aktif menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, memelihara amanah, menepati janji,
dan memelihara sholatnya.
b) Surga ‘And.
Diciptakan dari
intan putih. Penghuninya yaitu orang yang bertakwa kepada Allah (An
Nahl:30-31), benar-benar beriman dan beramal saleh (Thaha:75-76), banyak
berbuat baik (Fathir:32-33), sabar, menginfakkan hartanya, dan membalas
kejahatan dengan kebaikan (Ar Ra‟ad :22-23).
c) Surga Naim
Dijadikan dari
perak putih. Diperuntukkan bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah
dan beramal saleh (Al Qalam : 34, Luqman : 8, Yunus : 9, dan Al-Haj : 56).
d) Surga Ma’wa
Diciptakan dari
jamrud hijau. Adalah tempat orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An
Najm:15), beramal saleh (As Sajdah : 19) serta takut kepada kebesaran Allah dan
menahan hawa nafsunya (An Naziat : 40-41).
e) Surga Darussalam
Diciptakan dari
Yakut merah. Penghuninya yaitu orang-orang yang kuat iman dan Islamnya,
memperhatikan ayat-ayat Allah, serta beramal Saleh (Al An‟am : 27).
f) Surga Darul Muqamah
Diciptakan dari
permata putih. Dihuni oleh orang-orang yang kuat iman Islamnya, banyak berbuat
kebajikan, dan jarang berbuat kesalahan.
g) Surga Khuldi
Diciptakan dari
marjan merah dan kuning. Dihuni oleh orang-orang yang taat menjalankan perintah
Allah dan menjauhi segala larangannya (Al Furqaan:15).
Jarak antara
tingkatan surga yang satu dengan yang lainnya diterangkan dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abi Said Al-Khudri : “Surga itu terdiri dari seratus tingkat.
Antara tingkat yang satu dengan yang lainnya berjarak seperti antara Bumi dan
langit. Dan tingkatan tertinggi adalah surga Firdaus.”.
Ø Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.,
surga memiliki 8 pintu dari emas yang ditaburi mutiara. Pintu-pintu tersebut
adalah :
1. Pintu untuk para Nabi, Rasul, syuhada, dan dermawan.
2. Pintu bagi orang-orang yang mendirikan sholat dengan
menyempurnakan syarar rukunnya dan wudhunya.
3. Pintu buat orang-orang yang mengeluarkan zakat dengan
kebersihan jiwa.
4. Pintu untuk orang-orang yangmemerintah kebaikan dan
melarang kemungkaran.
5. Pintu orang-orang yang mencegah hawa nafsu dan
kesyahwatan.
6. Pintu buat orang-orang yang menunaikan ibadah Haji dan
umrah.
7. Pintu bagi para ahli Jihad (berjuang menegakkan agama
Allah).
8. Pintu bagi orang-orang yang bertakwa, berbakti kepada
orangtua, dan menyambung tali persaudaraan.
b.
Neraka
Neraka asalnya dari bahasa Arab yaitu “Nar” artinya api.
Adapun yang dimaksud neraka di sini ialah tempat yang penuh dengan siksaan yang
disediakan bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya, perintah-Nya dan
mereka suka melanggar larangan-Nya. Hal itu merupakan balasannya sesuai dengan
amalnya selama hidup di dunia. Allah berfirman :
“Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka
ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka
dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S An-Nisa’: 56)
Firman Allah yang lain :
“Dan
orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (yaitu)
orang yang akan memasuki api yang
besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula)
hidup.” (Q.S Al-A’la: 11-13)
Ø Nama-nama
neraka.
1.
Neraka Hawiyah.
yaitu
neraka yang paling ringan siksaannya, Ex : Disediakan untuk orang yang ringan kebaikannya.
2.
Neraka Ladho.
yaitu
neraka yang bergejolak apinya serta mengelupaskan kulit kepala, Ex : Disediakan untuk orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir).
3.
Neraka Sa’ir.
yaitu
neraka yang menyala-nyala, Ex
: Disediakan untuk orang-orang kafir terhadap akherat
(tidak percaya), juga untuk orang yang seneng bila mendapat rezeki dan marah
ketika susah memperoleh rezeki.
4.
Neraka Saqar.
yaitu
neraka yang membakar manusia
serta mengoyak kulitnya, Ex : Disediakan
untuk orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang
miskin, tukang gossip dll.
5.
Neraka Hutamah.
yaitu
neraka yang membakar manusia sampai ke ulu hatinya, Ex : Disediakan untuk para pengumpat & pencela.
6.
Neraka Jahim.
yaitu neraka yang apinya menghanguskan, Ex : Disediakan untuk mereka yang menyembah berhala, thagut
(harta & tahta), juga untuk orang yang sesat.
7.
Neraka Jahanam.
yaitu
neraka yang paling dalam
dan paling berat siksaannya, Ex : Disediakan untuk para pengikut syaithan. Pengikut syaithan kebanyakan para
wanita, mengapa demikian? karena dalam diri seorang wanita terdapat roh-roh
syaithan. Syaithan bentuknya yaitu seperti: Ucapan para dukun, peramal &
Hawa nafsu.
D. Pengertian
Syafaat yang Berhak Menerima dan Diberi
Syafaat ialah
permohonan ampun oleh seorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak
mendapatkannya.
“Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu
semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu
dikembalikan.” (Az Zumar: 44).
Ketahuilah, ayat
tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu
hanya milik Allah semata. Allah kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya
untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan
untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang
disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati
untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari
adzab-Nya, yang berhak memberikan syafaat diantaranya adalah:
1.
Rasulullah.
2.
Malaikat.
3.
Para
Nabi.
4.
Orang
mu’min yang shaleh.
Ø Syafaat yang diberikan Nabi itu ada
tiga yaitu:
1)
Syafaat
‘Adim, yaitu syafaat yang diberikan oleh seluruh umat manusia.
2)
Syafaat
Syughro, dan
3)
Syafaat
orang mu’min yang sholeh.
Ø Syarat Terjadinya Syafa’at
Orang yang
memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang.
Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at
untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang
disyafa’ati. Allah berfirman:
“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka
(malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at
melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati
karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya: 28).
Ø Macam-Macam
Syafa’at
Pertama, Syafaat
yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu yang ditegaskan Allah
Swt dalam Kitab-Nya , atau dijelaskan Rasulullah. Syafaat tidak diberikan
kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; karena Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu berkata:
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan
syafaatmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan,’Laa ilaaha illallah’
dengan ikhlas dalam hatinya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, kitab Al-Ilm, bab
“Al-Hirsh ‘ala Al-Hadits”.
Ø Syafaat mempunyai tiga syarat:
1)
Allah
meridhai orang yang memberi syafaat.
2)
Allah
meridhai orang yang diberi syafaat.
3)
Allah
mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.
Syarat-syarat di
atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka
sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang
dikehendaki dan diridhai (Nya).” (An- Najm:26).
Ø Menurut penjelasan para ulama, syafaat
yang diterima, dibagi menjadi dua macam:
1.
Syafaat
Umum
Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari
hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang
diperkenankan untuk diberi syafaat. Syaaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad
saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orangorang shalih.
Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang
beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.
2.
Syafaat
Khusus
Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada
Nabi Muhammad saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat.
Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan,
mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah
untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan
Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang
kepada Nabi saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar
menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi
permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan
Allah di dalam firman-Nya :
حْمُودًا مَقَامًا رَبُّكَ يَبْعَثَكَ أَن عَسَى لَّكَ نَافِلَةً بِهِ فَتَهَجَّدْ اللَّيْلِ وَمِنَ
“Dan pada sebagian malam hari
bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu:
mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Israa’:79).
Kedua, Syafaat batil yang tidak
berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan
mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah. Syafaat semacam ini tidak
bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya:
“Maka
tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan
syafaat.” (Al-Mudatstsir : 48).
Demikian itu karena Allah tidak rela
kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin
Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat
kepada mereka; karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah.
Allah tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah tidak senang kepada
kerusakan.
Ketergantungan orang-orang musyrik
kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, “Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami
di sisi Allah”, (Yunus: 18), adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat.
Bahkan demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh, karena
orang-orang musyrik itu meminta syafaat kepada berhala-berhala itu dengan cara
yang batil, yaitu menyembahnya. Itulah kebodohan mereka yang berusaha
mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan
mereka semakin jauh.
Ø Manfaat
Adanya Syafaat bagi kita:
1)
Membuat
kita semakin obtimis bahwa kita akan mendapat pertolongan dari Nabi Muhammad
SAW.
2)
Meningkatkan
ibadah serta amal baik kita, dan berharab semoga kita menjadi orang mu’min yang
soleh sehingga mampu memberikan syafaat kepada orang lain.
3)
Kita
akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan didunia, agar kita tidak
menjadi orang yang jauh dari Allah, Muhammad, dan Orang-orang Mu’min agar kita
bukan tergolong orang-orang yang musyrik.
4)
Kita
akan lebih mengerti bahwa orang-orang yang syirik tidak akan mendapatkan
syafaat dari siapapun termasuk dari Allah SWT.
E.
Bagaiman Cara dan Bentuk Menyikapi Hari Akhir (Pengejawahan)
Ø Pertama.
Kelompok yang beriman dan yakin dengan semua yang dijanjikan
oleh Rasulullah SAW tentang dekatnya kehancuran alam semesta (Kiamat), yang itu
semua di dahului dengan tanda-tanda kecil dan besar yang akan terjadi. Permusuhan
orang Islam terhadap Yahudi, dimana Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kiamat
tidak akan terjadi hingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi. Maka merupakan
suatu tindakan yang tidak tegas jika seseorang muslim membenarkan damai dengan
kelompok Yahudi.
Rasulullah SAW bersabda, "Pada angkatan belakangan
umatku ini akan ada orang-orang lelaki yang naik pelana kuda yang menyerupai
pelana unta lantas turun di pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian
tetapi telanjang, rambut kepala mereka bagaikan kelasa unta yang tinggi.
Laknatlah mereka, karena mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Kalau
dibelakangmu (sesudahmu) nanti masih ada umat-umat lain niscaya wanita-wanita
kamu akan melayani wanita-wanita mereka, sebagaimana dahulu kamu dilayani oleh
wanita bangsa-bangsa sebelum kamu." (HR Ahmad 2 :36 hadits no 7083 dengan
tahqiq Ahmad Syakir).
Ø Kedua.
Mereka yang kurang peduli dengan nash-nash tentang peristiwa
akhir zaman dan tidak banyak mengkajinya karena dianggap kurang realistis dan
bukan masanya. Mereka menganggap bahwa berbicara tentang petaka akhir zaman
sebagai penghalang menuju kemajuan karena merasa telah dibatasi oleh takdir
tentang berakhirnya alam semesta. Apalagi jika peristiwa akhir zaman itu
dikaitkan dengan kemenangan umat Islam di bawah kepemimpinan Al Mahdi yang akan
menaklukan seluruh dunia, mereka anggap itu hanyalah ilusi dan mimpi kosong.
Sabda Rasulullah SAW :
"Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat akan
timbul berbagai fitnah bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi
hari seseorang masih beriman, tetapi sore harinya telah menjadi kafir. Pada
saat itu orang yang duduk lebih baik daripada berdiri, yang berdiri lebih baik
daripada yang jalan, dan yang berjalan lebih baik daripada berlari. Karena itu
pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali busurmu dan pukullah pedangmu ke batu
(yakni jangan kamu gunakan untuk memukul atau membunuh manusia). Jika salah
seorang di antara kamu terlibat dalam urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia
bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang putra Adam (yakni bersikap
seperti Habil, jangan seperti Qabil)." (Musnad Ahmad 4 : 408 Hadits ini
juga dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al Jami'ush Shaghir 2 : 193 hadits
no. 2045)
Ø Ketiga.
Mereka yang tidak yakin akan datangnya kiamat. Kelompok ini
diwakili oleh kebanyakan bangsa barat yang tidak mengimani adanya hari akhir.
Kelompok ini didominasi oleh mereka yang tidak menganut agama samawi. Secara
umum setiap agama samawi (Islam, Kristen dsb) mengajarkan keyakinan tentang
datangnya hari pembalasan. Masing-masing agama samawi itu memiliki kitab suci
yang menginformasikan tentang kepastian adanya hari kiamat. Bahkan Taurat dan
Injil banyak mewartakan kisah-kisah tentang peristiwa akhir zaman secara
berlebih-lebihan. Adapun mereka yang mengingkari adanya kiamat, mungkin lebih
disebabkan oleh pengaruh pemikiran dari luar agama mereka yang lebih bernilai
politis. Di satu sisi mereka merasa memiliki teknologi yang sangat modern untuk
meneliti tentang hakikat alam semesta, hingga bisa menyimpulkan bahwa matahari
masih akan bersinar 5 milyar tahun lagi, namun mereka juga memililki misi untuk
menggiring manusia agar tidak mengekor kepada agama yang terlalu banyak
membelenggu. Mereka ingin membuktikan bahwa banyak ajaran agama (terkhusus
Islam) yang sangat tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, tidak realistis
dan sulit diterima akal. Sehingga, jika mereka berhasil meyakinkan manusia akan
sesatnya kehidupan beragama, maka dengan mudah mereka meyakinkan manusia bahwa
kebenaran selalu bersama mereka, bersama teknologi modern yang mereka miliki. Kecanggihan
teknologi yang mereka miliki menjadikan mereka memiliki kesimpulan tersendiri
tentang nasib dunia di masa mendatang. Termasuk kelompok ini adalah darwinisme
dan mereka sepaham dengannya.
Sabda Rasulullah SAW :
"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum
datangnya fitnah, dimana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap
gulita. Pagi-pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari sudah menjadi
kafir dan sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah
menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan secuil dunia." (Shahih Muslim,
Kitab Al Iman, Bab Al Hatstsu 'Ala Mubadaratil A'mal Qabla Tazharul Fitan 2 :
133).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Hari
akhirat jelas lebih utama dan lebih baik daripada dunia ini. Dibandingkan
dengan hari akhir, dunia ini tak lain hanyalah sarana dan merupakan tempat yang
tak berharga sama sekali. Maka, jika seseorang ingin mencari tujuan untuk
dirinya, tujuan itu haruslah surga di akhirat. Seharusnya juga diingat bahwa
mereka yang mencari surga menerima kebajikan dari Penciptanya di dunia ini
juga. Tetapi mereka yang mencari kehidupan dunia ini dan mendurhaka terhadap
Allah seringkali tak mendapatkan apa-apa yang berharga darinya dan kemudian
kediaman mereka pada kehidupan selanjutnya adalah neraka.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.islamhouse.com/415862/id/id/articles/Iman_Kepada_Hari_Akhir http://divertisa.blogspot.com/2011/10/makalah-agama-islam-iman-kepada-hari.html
Saputra,Thoyibah. 1996. Aqidah Akhlak. Semarang: PT.Karya Toha Putra.
Margiono dkk. 2006. Agama Islam 3. Jakarta:
Yudhistira
No comments:
Post a Comment