Saturday, December 28, 2013

STUDI ISLAM


Oleh: 
Ambar Surniawati
(12005208)



MAKALAH 
“IMAN KEPADA HARI AKHIR”

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Beriman kepada hari akhir atau hari kiamat termasuk rukun iman yang kelima. Orang Islam harus meyakini terhadap adanya hari akhir/kiamat. Meyakini terhadap hari akhir bagi orang beriman hukumnya wajib. Orang yang tidak mempercayai adanya hari akhir berarti imannya tidak sempurna. Hal tersebut sama juga tidak mempercayai terhadap kebenaran Al-Qur’an, sedangkan Al-Qur’an adalah kalamullah yang kebenarannya bersifat mutlak (pasti benar). Dengan demikian dapat juga dikatakan sebagai orang yang mengingkari Allah SWT., sedangkan ingkar termasuk dosa besar. Tentang kapan datangnya hari kiamat itu tidak ada seorang pun yang mengetahuinya karena semua adalah rahasia Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW. ketika ditanya oleh sahabat, beliau pun tidak mengetahuinya, namun sebelum datang saatnya hari kiamat itu ada tanda-tanda besar.
Meyakini adanya Hari Akhir juga merupakan salah satu basis dalam ajaran Islam. Memungkirinya atau meragu-ragukannya, berarti mengingkari seluruh ajaran Islam. Hakikat Yaum-ul-Akhir termasuk hal yang ghaib,karenanya hanya agamalah yang dapat menerangkannya. Manusia tidak dapat mereka-reka kejadian di hari itu, tanpa keterangan langsung dari Allah SWT dalam Al-Quran dan melalui keterangan-keterangan dari RasuluLlah SAW. Oleh karena itu, seorang mu'min sepatutnya menerima sepenuhnya petunjuk-petunjuk Allah tentang Kiamat tanpa pertimbangan lagi.

B.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang melatar belakangi masalah diatas antaranya :
1.      Apa pengertian iman kepada hari akhir?
2.      Apa hakikat hari akhir bagi manusia?
3.      Apa pengertian surga,neraka dan isinya?
4.      Apa pengertian syafaat yang berhak menerima dan diberi?
5.      Bagaiman cara dan bentuk menyikapi hari akhir (pengejawahan)?

C.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah kami ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian iman kepada hari akhir.
2.      Mengetahui hakikat hari akhir bagi manusia.
3.      Mengetahui pengertian surga,neraka dan isinya.
4.      Mengetahui pengertian syafaat yang berhak menerima dan diberi.
5.      Mengetahui cara dan bentuk penyikapan hari akhir (pengejawahan).
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Iman Kepada Hari Akhir
Secara Etimologi menurut bahasa, hari akhir adalah hari berakhirnya segala sesuatu di muka bumi ini. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, hari akhir adalah hari akhir zaman atau hari di mana dunia seisinya rusak binasa dan lenyap. Hari akhir juga dapat di artikan sebagai hari kebangkitan sesudah mati, yaitu orang yang telah meninggal di hidupkan kembali untuk di adili perbuatannya.
 Secara Terminologi menurut istilah hari akhir adalah peristiwa dimana alam semesta beserta isinya hancur luluh yang membunuh semua makhluk di dalamnya tanpa terkecuali. Hari akhir di tandai dengan bunyi teropet sangkakala oleh malaikat Isrofil atas perintah Allah SWT. Hari akhir sering di sebut juga dengan istilah hari kiamat.
            Pengertian Hari kiamat itu sendiri adalah hari akhir kehidupan seluruh manusia dan makhluk hidup di dunia dan yang harus kita percayai kebenaran adanya yang menjadi jembatan untuk menuju ke kehidupan selanjutnya di akhirat yang kekal dan abadi. Iman kepada hari kiamat adalah rukum iman yangke-lima. Hari kiamat diawali dengan tiupan terompet sangkakala oleh malaikat isrofil untuk menghancurkan bumi beserta seluruh isinya.Hari kiamat tidak dapat diprediksi kapan akan datangnya karena merupakan rahasia AllahSWT yang tidak diketahui siapa pun. Namun dengan demikian kita masih bisa mengetahui kapandatangnya hari kiamat dengan melihat tanda-tanda yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.Orang yang beriman kepada Allah SWT dan banyak berbuat kebaikan akan menerima imbalansurga yang penuh kenikmatan, sedangkan bagi orang-orang kafir dan penjahat akan masuk neraka yang sangat pedih untuk disiksa.
Ø  Dalil dan Hadist Yang menjelaskan Adaya Hari Kiamat
Beriman kepada Hari Akhir artinya meyakini dengan teguh apa yang diberitakan olehAllah dalam kitabNya dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya terkaitdengan peristiwa yang terjadi sesudah mati, mulai fitnah kubur, azab dan nikmat kubur danseterusnya sampai surga dan neraka.
Beriman kepada Hari Akhir adalah rukun iman yang kelima dari enam rukun iman. Didalam al-Qur`an dan di dalam hadits beriman kepada Hari Akhir sering digandengkan dengan beriman kepada Allah karena orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak mungkin beriman kepada Allah, orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir tidak akan beramal, orang beramal karena ada harapan kemuliaan di Hari Akhir dan ada ketakutan terhadap azab di Hariakhir, jika dia tidak beriman kepadanya maka dia seperti orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:
Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24).

Ø  Ada beberapa dalil yang menjelaskan bahwa hari akhir itu benar benar ada, diantaranya:
a.       Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan sungguh, (hari) pembalasan pasti benar. (QS. Adz-dzariyyat: 5-6).
b.      Sesungguhnya hari kiamat benar-benar akan datang tidak ada keraguan di dalamnya. (QS.Ghafir: 59).
c.       Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu, atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu tidak berguna lagi iman orang yang belum beriman sebelum itu, atu berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu. Katakanlah, “Tunggulah! Kamipun Menunggu. (QS. Al-An‟am:158).
d.      Hingga apabila (tembok) Ya‟juj dan Ma‟juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan (apabila) janji yang benar (hari berbangkit) telah dekat,..(QS. Al-Anbiya:96-97).
e.       Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa kabut yang tampak jelas. (QS. Ad- Dukhan: 10).
f.        Wahai Manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh guncangan (hari) kiamat itu adalah suatu (kejadian) yang sangat besar. (QS. Al-Hajj:1).

Ø  Dan beberapa hadist yang menjelaskan adanya hari kiamat, yaitu :
a.       Seorang Arab Badui bertanya, “Kapankah tibanya kiamat?” Nabi Saw lalu menjawab, “Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.” (HR. Bukhari).
b.      Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud).
c.       Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud).
d.      Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati kuburan berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini.” (Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu dihadapinya). (HR Bukhari).
e.       Belum akan kiamat sehingga tidak ada lagi di muka bumi orang yang menyebut : “Allah, Allah.” (HR. Muslim).
f.        Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari).

Ø  Tanda – Tanda Kiamat
Kiamat dibagi menjadi dua, yaitu kiamat syugra (kecil) dan kiamat kubra (besar).
1)    Tanda-tanda shugra (kecil), yang sebagian di antaranya sudah tampak dalam kehidupan sekarang ini:
a)     Ajaran Islam kurang diperhatikan dan bahkan ditinggalkan oleh kaum Muslim.
b)    Jumlah ulama (ahli agama) yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama dan menyesatkan umat.
c)     Perzinahan dilakukan terang-terangan dan sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat luas.
d)    Begitu pula mabuk-mabukan yang banyak dilakukan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.
e)     Jumlah wanita semakin lebih banyak dibandingkan dengan pria, dan mereka sudah tidak malu lagi berpakaian setengah telanjang.
f)      Banyak wanita yang berdandan/berpenampilan seperti pria, begitu juga sebaliknya.
g)     Umat manusia berlomba menumpuk kekayaan dengan jalan yang tidak halal serta maraknya praktek riba.
h)    Para orangtua menjadi budak dan diperlakukan sewenang-wenang oleh anak- anaknya.
i)       Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam. sering terjadi bencana alam, pembunuhan, dan peperangan.
j)       Banyaknya perceraian.
k)     Bermewah-mewah dalam membangun masjid sementara jamaahnya sedikit, serta saling membanggakan keindahan masjid.

2)    Tanda-tanda kubra (besar) seperti halnya :
a)     Waktu berputar semakin cepat, sehingga setahun terasa sebulan, sebulan terasa seminggu.
b)    Matahari terbit di sebelah barat.
c)     Keluarnya Dajjal, yaitu sosok pembohong yang menutupi kebenaran.
d)    Adanya Ya‟juj dan Ma‟juj, yaitu segolongan umat manusia yang mempunyai kekuatan besar dan berpikiran sesat.
e)     Turunnya Imam Mahdi ke dunia untuk meluruskan syari‟at Islam dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah saw.
f)      Turunnya Nabi Isa as. dari langit yang akan memperjuangkan kebenaran bersama Imam Mahdi.
g)     Dialah yang menumpas Dajjal serta mengajak umat manusia mengesakan Allah swt dan menyambah-Nya.
h)    Hilangnya Al Quran dari mashaf san hati umat manusia hingga hilang pedoman.
            Tanda-tanda kecil datangnya hari kiamat secara umum datang lebih dahulu dari tanda-tanda besar, serta sebagiannya sudah terjadi. Jika tanda-tanda besar muncul telah muncul satu, maka akan diikuti tanda-tanda yang lainnya, yaitu yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari barat. Demikianlah kita sebagai umat manusia hendaknya mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan taat dan takwa kepada Allah swt, karena bagaimanapun juga tanda-tanda kecil datangnya kiamat telah banyak terjadi dan itu semua sebagai peringatan agar manusia sadar dan bertaubat.


B.      Hakikat Hari Akhir Bagi Manusia

Iman kepada hari akhir adalah mempercayai dan meyakini akan adanya kehidupan yang kekal dan abadi setelah kehidupan dunia ini. Bagi orang islam wajib mengimani dan meyakini bahwa  suatu ketika nanti dunia yang kita huni beserta isinya ini akan hancur lebur, yang dikenal dengan hari kiamat. Setelah itu manusia akan di bangkitkan lagi dari alam kuburnya untuk menerima kebenaran yang sesungguhnya, yakni manusia akan mempertanggungjawabkan semua yang diperbuat selama hidup dunia. Bukti seseorang beriman kepada hari akhir adalah ia mau mempersiapkan diri untuk menyambut hari itu, yakni dengan banyak beramal saleh, contohnya salat lima waktu, infaq, belajar dengan giat, dan lain-lain. Datangnya hari kiamat tidak ada orang yang tahukapan waktunya, datangnya hari kiamat merupakan rahasia Allah SWT.
 Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Thaha ayat 15 yang artinya: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan”.(QS. Thaha : 15)
Firman yang lainnya : “Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tidak ada keraguan padanya, dan bahwasannya Allah membangkitkan semua yang ada dalam kubur”.(QS. Al-Hajj : 7)
Islam memandang dunia dan akhirat sebagai kesatuan integral yang tak terpisahkan. Islam tidak menjauhi, membenci atau mengaharamkan dunia, melainkan melihatnya sebagai jembatan menuju akhirat. RasuluLlah SAW memberi perumpamaan yang tepat bagi dunia ini: "Ad-dunya mazru'atul akhirat" (Dunia adalah sawah-ladangnya akhirat). Dunia tempat berbuat dan akhirat tempat memetik buah hasil perbuatan. Kendati dunia teramat penting, ia tidak boleh dijadikan tujuan. Seorang mu'min senantiasa menjadikan ridha ALlah, serta pahala balasan akhirat sebagai titik tuju.
Bagaimanakah sikap manusia (termasuk umat Islam) terhadap hari akhirat? Tak dapat dipungkiri, dalam era modern seperti dewasa ini daya pikat dunia semakin kuat dan memabukkan sehingga mereka yang tidak mengenal kebenaran dengan mudah terbuai oleh rayuannya. Semakin bartambahnya usia, yang pada hakikatnya semakin mendekati titik akhir, justru akhirat semakin diabaikan. Tidak sedikit yang menanggapi uraian-uraian mengenai akhirat dengan acuh tak acuh. Bahkan banyak diantaranya yang menganggap sepi tak berarti, dan bahkan mengingkari.

Ø  Dalam keimanan pada hari akhir, paling tidak, manusia dapat digolongkan dalam tiga macam:
1.      Sama sekali tidak percaya.
Jumlah manusia golongan ini cukup banyak dan pemikiran merekadominan sekali pada masa ini. Orang-orang ini percaya bahwa materi itu di atas segala-galanya. Bagi mereka, kehidupan ini hanyalah semata- mata di dunia saja. Tidak pernah terlintas untuk meyakini adanya hari akhir, serta tak perlu bertanggung jawab atas apa-apa yang diperbuatnya.
2.      Percaya, tapi tidak mempersiapkan diri.
Mungkin, jumlah terbanyak umat manusia termasuk dalam golongan ini. Sebagian besar umat Islam masa kini juga termasuk mereka. Sebenarnya, orang-orang yang mengimani hari akhirat berikut pembalasan di dalamnya, akan selalu berhati-hati dalam perbuatannya karena mereka sadar akan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Namun sayang, keimanan tersebut tak berpengaruh dalam perbuatan atau sikapnya. Kenyataan hidup sehari-harinya sangat jauh dari konsep iman.
3.      Percaya, dan berusaha mempersiapkan diri.
Manusia dalam kelompok ini meyakini adanya akhirat, dan selalu berupaya keras untuk mencapainya. Kelompok inilah yang disebut "mu'min". Iman kepada ALlah dan Hari Akhir membentuk sikap dan perilakunya. Seluruh perbuatannya berdasarkan aturan dan hidayah ALlah. Terkontrol sepenuhnya oleh tanggung-jawabnya terhadap Hari Pengadilan dan Pembalasan. Setiap tindakannya selalu disertai dengan satu tanya "Nanti bagaimana?", bukannya "Bagaimana nanti!".
            Barangsiapa yang beriman kepada ALlah dan Hari Akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang yang beriman kepada ALlah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik, dan kalau tidak dapat, hendaklah ia diam saja. [Muttafaqun alaihi].


C.      Pengertian Surga, Neraka dan Isinya

a.       Surga
Surga aslinya dari bahasa Arab, yaitu, Jannah artinya kebun atau taman. Adapun yang dimaksud “surga” disini ialah tempat yang penuh dengan keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan yang abadi yang disediakan bagi manusia sebagai pembalasan yang layak terhadap amal perbuatannya di dunia, semua yang ada dalam surga adanya serba nikmat. Allah berfirman :
“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).  Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Q.S Yasin: 55-56).
Sebagai balasan bagi orang-orang yang telah berbuat kebajikan, maka penghuni surga tidak akan mendengar perkataan yang sia-sia. Allah berfirman :
 “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa.” (Q.S Al-Waqi’ah: 25)

Ø  Adapun macam macam surga sebagai berikut :
a)     Surga Firdaus.
Dijadikan dari emas yang merah.Dalam Al-Mukminun : 1-11, dijelaskan bahwa surga ini untuk orang-orang yang khusyuk sholatnya, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, aktif menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, memelihara amanah, menepati janji, dan memelihara sholatnya.
b)    Surga ‘And.
Diciptakan dari intan putih. Penghuninya yaitu orang yang bertakwa kepada Allah (An Nahl:30-31), benar-benar beriman dan beramal saleh (Thaha:75-76), banyak berbuat baik (Fathir:32-33), sabar, menginfakkan hartanya, dan membalas kejahatan dengan kebaikan (Ar Ra‟ad :22-23).
c)     Surga Naim
Dijadikan dari perak putih. Diperuntukkan bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan beramal saleh (Al Qalam : 34, Luqman : 8, Yunus : 9, dan Al-Haj : 56).
d)    Surga Ma’wa
Diciptakan dari jamrud hijau. Adalah tempat orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An Najm:15), beramal saleh (As Sajdah : 19) serta takut kepada kebesaran Allah dan menahan hawa nafsunya (An Naziat : 40-41).
e)     Surga Darussalam
Diciptakan dari Yakut merah. Penghuninya yaitu orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, memperhatikan ayat-ayat Allah, serta beramal Saleh (Al An‟am : 27).

f)      Surga Darul Muqamah
Diciptakan dari permata putih. Dihuni oleh orang-orang yang kuat iman Islamnya, banyak berbuat kebajikan, dan jarang berbuat kesalahan.
g)     Surga Khuldi
Diciptakan dari marjan merah dan kuning. Dihuni oleh orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya (Al Furqaan:15).

Jarak antara tingkatan surga yang satu dengan yang lainnya diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Said Al-Khudri : “Surga itu terdiri dari seratus tingkat. Antara tingkat yang satu dengan yang lainnya berjarak seperti antara Bumi dan langit. Dan tingkatan tertinggi adalah surga Firdaus.”.

Ø  Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., surga memiliki 8 pintu dari emas yang ditaburi mutiara. Pintu-pintu tersebut adalah :
1.      Pintu untuk para Nabi, Rasul, syuhada, dan dermawan.
2.      Pintu bagi orang-orang yang mendirikan sholat dengan menyempurnakan syarar rukunnya dan wudhunya.
3.      Pintu buat orang-orang yang mengeluarkan zakat dengan kebersihan jiwa.
4.      Pintu untuk orang-orang yangmemerintah kebaikan dan melarang kemungkaran.
5.      Pintu orang-orang yang mencegah hawa nafsu dan kesyahwatan.
6.      Pintu buat orang-orang yang menunaikan ibadah Haji dan umrah.
7.      Pintu bagi para ahli Jihad (berjuang menegakkan agama Allah).
8.      Pintu bagi orang-orang yang bertakwa, berbakti kepada orangtua, dan menyambung tali persaudaraan.

b.      Neraka
Neraka asalnya dari bahasa Arab yaitu “Nar” artinya api. Adapun yang dimaksud neraka di sini ialah tempat yang penuh dengan siksaan yang disediakan bagi orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya, perintah-Nya dan mereka suka melanggar larangan-Nya. Hal itu merupakan balasannya sesuai dengan amalnya selama hidup di dunia. Allah berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S An-Nisa’: 56)
Firman Allah yang lain :
“Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya. (yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (Q.S Al-A’la: 11-13)
Ø  Nama-nama neraka.
1.      Neraka Hawiyah.
yaitu neraka yang paling ringan siksaannya, Ex : Disediakan untuk orang yang ringan kebaikannya.
2.      Neraka Ladho.
yaitu neraka yang bergejolak apinya serta mengelupaskan kulit kepala, Ex : Disediakan untuk orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir).
3.      Neraka Sa’ir.
yaitu neraka yang menyala-nyala, Ex : Disediakan untuk orang-orang kafir terhadap akherat (tidak percaya), juga untuk orang yang seneng bila mendapat rezeki dan marah ketika susah memperoleh rezeki.
4.      Neraka Saqar.
yaitu neraka yang membakar manusia serta mengoyak kulitnya, Ex : Disediakan untuk orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang miskin, tukang gossip dll.

5.      Neraka Hutamah.
yaitu neraka yang membakar manusia sampai ke ulu hatinya, Ex : Disediakan untuk para pengumpat & pencela.

6.      Neraka Jahim.
yaitu neraka yang apinya menghanguskan, Ex : Disediakan untuk mereka yang menyembah berhala, thagut (harta & tahta), juga untuk orang yang sesat.

7.      Neraka Jahanam.
yaitu neraka yang paling dalam dan paling berat siksaannya, Ex : Disediakan untuk para pengikut syaithan. Pengikut syaithan kebanyakan para wanita, mengapa demikian? karena dalam diri seorang wanita terdapat roh-roh syaithan. Syaithan bentuknya yaitu seperti: Ucapan para dukun, peramal & Hawa nafsu.


D.     Pengertian Syafaat yang Berhak Menerima dan Diberi

Syafaat ialah permohonan ampun oleh seorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya.
“Katakanlah: Hanya kepunyaan Allah lah syafa’at itu semuannya. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Kemudiaan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Az Zumar: 44).
Ketahuilah, ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa syafa’at segenap seluruh macamnya itu hanya milik Allah semata. Allah kemudian memberikan kepada sebagian hamba-Nya untuk memberikan syafa’at kepada sebagian hamba yang lainnya dengan tujuan untuk memuliakan menampakkan kedudukannya pemberi syafa’at dibanding yang disyafa’ati serta memberikan keutamaan dan karunia-Nya kepada yang disyafa’ati untuk bisa mendapatkan kenikmatan yang lebih baik atau kebebasan dari adzab-Nya, yang berhak memberikan syafaat diantaranya adalah:
1.      Rasulullah.
2.      Malaikat.
3.      Para Nabi.
4.      Orang mu’min yang shaleh.

Ø  Syafaat yang diberikan Nabi itu ada tiga yaitu:
1)    Syafaat ‘Adim, yaitu syafaat yang diberikan oleh seluruh umat manusia.
2)    Syafaat Syughro, dan
3)    Syafaat orang mu’min yang sholeh.

Ø   Syarat Terjadinya Syafa’at
Orang yang memberi syafa’at dan orang yang diberi syafa’at itupun bukan sembarang orang. Syafa’at hanya terjadi jika ada izin Allah kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberi syafa’at dan ridha Allah kepada pemberi syafa’at dan yang disyafa’ati. Allah berfirman:
“Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya: 28).

Ø  Macam-Macam Syafa’at
Pertama, Syafaat yang didasarkan pada dalil yang kuat dan shahih, yaitu yang ditegaskan Allah Swt dalam Kitab-Nya , atau dijelaskan Rasulullah. Syafaat tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang bertauhid dan ikhlas; karena Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata:
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling bahagia mendapatkan syafaatmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan,’Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dalam hatinya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhori, kitab Al-Ilm, bab “Al-Hirsh ‘ala Al-Hadits”.

Ø  Syafaat mempunyai tiga syarat:
1)    Allah meridhai orang yang memberi syafaat.
2)    Allah meridhai orang yang diberi syafaat.
3)    Allah mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat.

Syarat-syarat di atas secara global dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (An- Najm:26).

Ø  Menurut penjelasan para ulama, syafaat yang diterima, dibagi menjadi dua macam:
1.      Syafaat Umum
Makna umum, Allah mengizinkan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang diperkenankan untuk diberi syafaat. Syaaat ini diberikan kepada Nabi Muhammad saw, nabi-nabi lainnya, orang-orang jujur, para syuhada, dan orangorang shalih. Mereka memberikan syafaat kepada penghuni neraka dari kalangan orang-orang beriman yang berbuat maksiat agar mereka keluar dari neraka.
2.      Syafaat Khusus
Syafaat khusus, yaitu syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad saw dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari Kiamat. Tatkala manusia dirundung kesedihan dan bencana yang tidak kuat mereka tahan, mereka meminta kepada orang-orang tertentu yang diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafaat. Mereka pergi kepada Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Tetapi mereka semua tidak bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi saw, lalu beliau berdiri dan memintakan syafaat kepada Allah, agar menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari adzab yang besar ini. Allah pun memenuhi permohonan itu dan menerima syafaatnya. Ini termasuk kedudukan terpuji yang dijanjikan Allah di dalam firman-Nya :
حْمُودًا مَقَامًا رَبُّكَ يَبْعَثَكَ أَن عَسَى لَّكَ نَافِلَةً بِهِ فَتَهَجَّدْ اللَّيْلِ وَمِنَ
“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Israa’:79).

            Kedua, Syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafaat kepada Allah. Syafaat semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka seperti yang difirmankan-Nya:
            “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (Al-Mudatstsir : 48).
            Demikian itu karena Allah tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Allah memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka; karena tidak ada syafaat kecuali bagi orang yang diridhai Allah. Allah tidak meridhai hamba-hamba-Nya yang kafir dan Allah tidak senang kepada kerusakan.
            Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, “Mereka adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”, (Yunus: 18), adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh, karena orang-orang musyrik itu meminta syafaat kepada berhala-berhala itu dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itulah kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

Ø  Manfaat Adanya Syafaat bagi kita:
1)    Membuat kita semakin obtimis bahwa kita akan mendapat pertolongan dari Nabi Muhammad SAW.
2)    Meningkatkan ibadah serta amal baik kita, dan berharab semoga kita menjadi orang mu’min yang soleh sehingga mampu memberikan syafaat kepada orang lain.
3)    Kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan didunia, agar kita tidak menjadi orang yang jauh dari Allah, Muhammad, dan Orang-orang Mu’min agar kita bukan tergolong orang-orang yang musyrik.
4)    Kita akan lebih mengerti bahwa orang-orang yang syirik tidak akan mendapatkan syafaat dari siapapun termasuk dari Allah SWT.


E.      Bagaiman Cara dan Bentuk Menyikapi Hari Akhir (Pengejawahan)

Ø  Pertama.
Kelompok yang beriman dan yakin dengan semua yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW tentang dekatnya kehancuran alam semesta (Kiamat), yang itu semua di dahului dengan tanda-tanda kecil dan besar yang akan terjadi. Permusuhan orang Islam terhadap Yahudi, dimana Rasulullah SAW menyebutkan bahwa kiamat tidak akan terjadi hingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi. Maka merupakan suatu tindakan yang tidak tegas jika seseorang muslim membenarkan damai dengan kelompok Yahudi.

Rasulullah SAW bersabda, "Pada angkatan belakangan umatku ini akan ada orang-orang lelaki yang naik pelana kuda yang menyerupai pelana unta lantas turun di pintu-pintu masjid. Wanita-wanita mereka berpakaian tetapi telanjang, rambut kepala mereka bagaikan kelasa unta yang tinggi. Laknatlah mereka, karena mereka adalah wanita-wanita terlaknat. Kalau dibelakangmu (sesudahmu) nanti masih ada umat-umat lain niscaya wanita-wanita kamu akan melayani wanita-wanita mereka, sebagaimana dahulu kamu dilayani oleh wanita bangsa-bangsa sebelum kamu." (HR Ahmad 2 :36 hadits no 7083 dengan tahqiq Ahmad Syakir).

 
Ø  Kedua.
Mereka yang kurang peduli dengan nash-nash tentang peristiwa akhir zaman dan tidak banyak mengkajinya karena dianggap kurang realistis dan bukan masanya. Mereka menganggap bahwa berbicara tentang petaka akhir zaman sebagai penghalang menuju kemajuan karena merasa telah dibatasi oleh takdir tentang berakhirnya alam semesta. Apalagi jika peristiwa akhir zaman itu dikaitkan dengan kemenangan umat Islam di bawah kepemimpinan Al Mahdi yang akan menaklukan seluruh dunia, mereka anggap itu hanyalah ilusi dan mimpi kosong.
Sabda Rasulullah SAW :
"Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat akan timbul berbagai fitnah bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih beriman, tetapi sore harinya telah menjadi kafir. Pada saat itu orang yang duduk lebih baik daripada berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang jalan, dan yang berjalan lebih baik daripada berlari. Karena itu pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali busurmu dan pukullah pedangmu ke batu (yakni jangan kamu gunakan untuk memukul atau membunuh manusia). Jika salah seorang di antara kamu terlibat dalam urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang putra Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil)." (Musnad Ahmad 4 : 408 Hadits ini juga dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al Jami'ush Shaghir 2 : 193 hadits no. 2045)

Ø  Ketiga.

Mereka yang tidak yakin akan datangnya kiamat. Kelompok ini diwakili oleh kebanyakan bangsa barat yang tidak mengimani adanya hari akhir. Kelompok ini didominasi oleh mereka yang tidak menganut agama samawi. Secara umum setiap agama samawi (Islam, Kristen dsb) mengajarkan keyakinan tentang datangnya hari pembalasan. Masing-masing agama samawi itu memiliki kitab suci yang menginformasikan tentang kepastian adanya hari kiamat. Bahkan Taurat dan Injil banyak mewartakan kisah-kisah tentang peristiwa akhir zaman secara berlebih-lebihan. Adapun mereka yang mengingkari adanya kiamat, mungkin lebih disebabkan oleh pengaruh pemikiran dari luar agama mereka yang lebih bernilai politis. Di satu sisi mereka merasa memiliki teknologi yang sangat modern untuk meneliti tentang hakikat alam semesta, hingga bisa menyimpulkan bahwa matahari masih akan bersinar 5 milyar tahun lagi, namun mereka juga memililki misi untuk menggiring manusia agar tidak mengekor kepada agama yang terlalu banyak membelenggu. Mereka ingin membuktikan bahwa banyak ajaran agama (terkhusus Islam) yang sangat tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, tidak realistis dan sulit diterima akal. Sehingga, jika mereka berhasil meyakinkan manusia akan sesatnya kehidupan beragama, maka dengan mudah mereka meyakinkan manusia bahwa kebenaran selalu bersama mereka, bersama teknologi modern yang mereka miliki. Kecanggihan teknologi yang mereka miliki menjadikan mereka memiliki kesimpulan tersendiri tentang nasib dunia di masa mendatang. Termasuk kelompok ini adalah darwinisme dan mereka sepaham dengannya.
Sabda Rasulullah SAW :
"Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya fitnah, dimana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pagi-pagi seorang masih beriman, tetapi di sore hari sudah menjadi kafir dan sore hari seseorang masih beriman, kemudian di pagi harinya sudah menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan secuil dunia." (Shahih Muslim, Kitab Al Iman, Bab Al Hatstsu 'Ala Mubadaratil A'mal Qabla Tazharul Fitan 2 : 133).



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Hari akhirat jelas lebih utama dan lebih baik daripada dunia ini. Dibandingkan dengan hari akhir, dunia ini tak lain hanyalah sarana dan merupakan tempat yang tak berharga sama sekali. Maka, jika seseorang ingin mencari tujuan untuk dirinya, tujuan itu haruslah surga di akhirat. Seharusnya juga diingat bahwa mereka yang mencari surga menerima kebajikan dari Penciptanya di dunia ini juga. Tetapi mereka yang mencari kehidupan dunia ini dan mendurhaka terhadap Allah seringkali tak mendapatkan apa-apa yang berharga darinya dan kemudian kediaman mereka pada kehidupan selanjutnya adalah neraka.





DAFTAR PUSTAKA


Saputra,Thoyibah. 1996. Aqidah Akhlak. Semarang: PT.Karya Toha Putra.
Margiono dkk. 2006. Agama Islam 3. Jakarta: Yudhistira



No comments:

Post a Comment